Konsep Supply Chain

Supply Chain (Rantai Pasok) didefinisikan sebagai suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi yang saling berhubungan yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang tersebut. Kata "penyaluran" mungkin kurang tepat karena istilah supply meliputi juga proses perubahan barang tersebut, misalnya dari bahan mentah menjadi barang jadi.

Supply Chain Management atau Manajemen Rantai Pasok merupakan suatu pengembangan dari Manajemen Logistik. Menurut Martono, 2015: 2, Rantai Pasok adalah suatu sistem terintegrasi yang mengkoordinasikan keseluruhan proses di organisasi/perusahaan dalam mempersiapkan dan menyampaikan produk/jasa kepada konsumen. Proses ini mencakup perencanaan (plan), sumber input bagi proses (source, misalnya pengiriman bahan mentah dari permasok), proses transformasi input menjadi output (make), transportasi, distribusi, pergudangan (deliver), sistem informasi, dan pembayaran produk/jasa, sampai produk/jasa tersebut dikonsumsi oleh konsumen, serta layanan pengembalian produk/jasa (return).


Konsep supply chain merupakan konsep baru dalam melihat persoalan logistik. Konsep lama melihat logistik lebih sebagai persoalan intern masing masing perusahaan, dan pemecahaannya menitik beratkan pada pemecahan secara intern di perusahaan masing masing. Dalam konsep baru ini, masalah logitik dilihat sebagai masalah yang lebih luas yang terbentang sangat panjang sejak dari bahan dasar sampai barang jadi yang dipakai konsumen akhir, yang merupakan mata rantai penyediaan barang. Oleh karena itu, manajemen supply chain dapat didefinisikan sebagai berikut :


Supply Chain management is a set of approaches utilized to efficiently integrate supplier, manufactures, warehouses, and stores so that merchandise is produced and distributed at the right quantities, to the right locations, at the right time, in order to minimize system wide costs while satisfying service level requirement (David Simchi Levi et al, 2000)


Istilah Supply Chain Management (SCM) pertama kali dikemukakan oleh Oliver & Weber pada tahun 1982 (cf. liver & Weber; Lambert et al. dalam Pujawan, 2005: 5). Kalau supply chain adalah jaringan fisiknya, yakni perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang, maupun mengirimkannya ke pemakai akhir, SCM adalah metode, alat atau pendekatan atau metode yang terintegrasi dengan dasar semangat kolaborasi. Ada beberapa definisi tentang SCM. Misalnya, the Council of Logistic Management memberikan definisi berikut:

“Supply chain management is the systematic, strategic coordination of the traditional business functions within a particular company and across business within the supply chain for the purpose of imporving the long-term performance of the individual company and the supply chain as a whole”

SCM pada hakekatnya mencakup lingkup pekerjaan dan tanggung jawab yang luas. Beberapa elemen penting yang masuk dalam klasifikasi SCM di antaranya di tunjukkan pada tabel berikut.

Bagian
Cakupan kegiatan antara lain
Pengembangan produk
Melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan supplier dalam perancangan produk baru.
Pengadaan
Memilih supplier, mengevaluasi kinerja supplier, melakukan pembelian bahan baku dan komponen, memonitor supply risk, membina dan memelihara hubungan dengan supplier.
Perencanaan & Pengendalian
Demand planning, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perencanaan produksi dan persediaan.
Operasi / Produksi
Eksekusi produksi, pengendalian kualitas.
Pengriman / Distribusi
Perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan pengiriman, mencari dan memelihara hubungan dengan perusahaan jasa pengiriman, memonitor service level di tiap pusat distribusi.
Sumber : I Nyoman Pujawan (2005)


Seluruh klasifikasi yang disebutkan dalam tabel tersebut biasanya tercermin dalam bentuk pembagian department atau divisi pada perusahaan menufaktur. Pembagian tersebut sering dinamakan functional division karena mereka dikelompokkan sesuai dengan fungsinya.


Melihat beberapa definis yang di jelaskan di atas, dapat dikatakan bahwa supply chain adalah logistics network yang cukup luas dan kompleks. Dalam hubungan ini, ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu :
  1. supplier
  2. manufacturer
  3. distributor
  4. retail outlets
  5. customers




Chain 1 : Suppliers
Jaringan bermula dari sini, yang merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, di mana mata rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama di sini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, sub assemblies, susku cadang, dan sebagainya. Sumber pertama ini dinamakan suppliers. Dalam artinya yang murni, ini termasuk juga suppliers's suppliers atau sub-suppliers. Jumlah supplier bisa banyak atau sedikit, tetapi suppliers's suppliers biasanya berjumlah banyak sekali. Inilah mata rantai yang pertama


Chain 1 - 2 : Suppliers, Manufacturer
Rantai pertama dihubungkan dengan rantai kedua, yaitu manufacturer atau plants atau assembler atau fabricator atau bentuk lain yang melakukan perkerjaan membuat, mempabrikasi, mengasembling, merakit mengkonversikan, atau pun menyelesaikan barang (finishing). Untuk keperluan tulisan ini, sebut saja bentuk yang bermacam-macam tadi sebagai manufacturer. Hubungan dengan mata rantai pertama ini sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan. Misalnya, inventories bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan jadi yang berada di pihak suppliers, manufacturer, dan tempat transit merupakan target untuk penghematan ini. Tidak jarang penghematan sebesar 40% - 60% bahkan lebih, dapat diperoleh dari inventory carrying cost di mata rantai ini. Dengan menggunakan konsep supplier partnering misalnya, penghematan ini dapat diperoleh.


Chain 1 - 2 - 3 : Suppliers, Manufacturer, Distributor
Barang sudah jadi yang dihasilkan oleh manufacturer sudah mulai harus disalurkan kepada pelanggan. Walaupun terseedia banyak cara untuk penyaluran barang ke pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar supply chain. Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan ke gudang distributor atau wholesaler atau pedagang besar dalam jumlah besar, dan pada waktunya nanti pedagang besar menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.


Chain 1 - 2 - 3 - 4 : Suppliers, Manufacturer, Distributor, Retailer Outlets
Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan lagi ke pihak pengecer. Sekali lagi di sini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventories dan biaya gudang, dengan maka melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang manufacturer maupun toko pengecer (retail outlets). Walaupun ada beberapa pabrik yang lengsung menjual barang hasil produksinya kepada pelanggan, namun secara relatif jumlahnya tidak banyak dan kebanyakan menggunakan pola seperti di atas.


Chain 1 - 2 - 3 - 4 -5 : Supplier, Manufacturer, Distributor, Retailer Outlets, Customers
Dari rak-raknya, para pengecer atau retailers ini menawarkan barangnya langsung kepada para pelanggan atau pembeli atau pengguna barang tersebut. Yang termausk outlets adalah toko, warung, toke serba ada, pasar swalayan, toko koperasi, mall, club stores, dan sebagainya di mana pembeli akhir melakukan pembelian. Walaupun secara fisik dapat dikatakan bahwa ini merupakan mata rantai yang terakhir, sebetulnya masih ada satu mata rantai lagi, yaitu dari pembeli (yang mendatangi retailer outlet tadi) ke real customers atau real user, karena pembeli belum tentu pengguna sesungguhnya. Mata rantai supply baru betul betul berhenti setelah barang yang bersangkutan tiba di pemakai lengsung (pemakai yang sebenarnya) barang atau jasa dimaksud.


Mata rantai yang dijelaskan di atas merupakan suatu gambaran umum terhadap konsep rantai pasok. Rantai Pasok merupakan suatu ilmu yang cukup kompleks yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berkembang sesuai dengan teknologi serta kebutuhan dari konsumen.
Kemampuan ini menyebabkan masuknya beberapa pemain utama yang ikut masuk berperan penting dalam aktifitas Rantai Pasok, yang di antaranya adalah ;

  1. Logistic Service Provider, yaitu pihak yang menyediakan jasa aktifitas logistik yang dapat berbentuk 3PL (Third Party Logistics) hingga 4PL (Forth Party Logistics) yang saat ini sedang berkembang dan marak di dalam aktifitas Rantai Pasok
  2. Internet Provider hingga Webmaster yang muncul akibat berkembangnya aktifitas jual beli melalui online (e-commerce) yang mana secara langsung mempengaruhi proses rantai pasok


Semoga Bermanfaat
(dari beberapa sumber)
Konsep Supply Chain Konsep Supply Chain Reviewed by Denny Trisna on 12:31 AM Rating: 5

2 comments:

  1. Managemen rantai pasok atau supplay chain itu apakah sama dengan saluran pemasaran min ? agak bingung membedakannya min. Help

    ReplyDelete
  2. Managemen rantai pasok atau supplay chain itu apakah sama dengan saluran pemasaran min ? agak bingung membedakannya min. Help

    ReplyDelete

Powered by Blogger.